Aksara Kembara [8] : 77

29 Maret 2013

by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Thursday, March 7, 2013 at 10:47am
Eh, pagi ini aku merindukan Yusuf!

[ ]

Rasa-rasanya sudah lama juga aku nggak nulis aksara kembara, ya? Huum, dah lama banget! Jujur, sedikit curcol nih (halah) kesibukan setelah menikah itu jauh berlipat ganda jika dibandingkan saat dulu masih berstatus jomblo… Hehe. Aku akui sesampai di Semarang waktu menulisku menjadi sangat berkurang (tapi aku berjanji, mulai hari ini aku harus lebih rajin dan lebih disiplin lagi *ngiketkepalapakeserbet+krukupiwajan#eh). Dan kesibukan itu semakin bertambah saat kami memutuskan untuk menempati sebuah rumah kontrakan bernomor 77, tidak jauh dari Pasar Damar.

Sabtu-Ahad pekan kemarin menjadi hari-hari super remphong bagi kami. Mulai dari angkut-angkut barang dari kost lama (semenjak pindah dari Bogor dan memutuskan untuk berdomisili di Semarang karena belum langsung dapat kontrakan, kita ngekost dulu selama sebulan). Bayangpun… eh. Sebulan harus pisah dari wajan n the gank karena di kost tidak ada fasilitas dapur. Sebulan tanpa setrika (karena setrika saat itu baru diproses pengirimannya berikut lemari, kulkas, dan kawan-kawannya dari Bogor). Otomatis, sebulan makan di luar dan ngelaundry nyetrika. Aih aih... pemborosan tingkat bidadari sebenarnya. Tapi ya buat pengalaman aja! Hehe. Karena kondisi tidak memungkinkan dan sifatnya hanya sementara.

Dan Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa bernapas lega setidaknya untuk jangka waktu satu tahun ke depan. Kami sudah bisa menempati sebuah istana mungil, istana 77 yang semoga di dalamnya penuh dengan aktivitas-aktivitas yang istimewa. Menjadi baity jannati, menjadi istana yang bersinar benderang karena dinaungi cahaya Al Qur’an. Menjadi hunian yang nyaman dan aman untuk keluarga kecil kami pada khususnya. Bersyukurnya, kami dikelilingi oleh tetangga yang sangat baik dan ramah-ramah. Waktu awal tinggal pun, aku sudah pasang target pribadi. Setiap hari harus tambah kenalan tetangga minimal 2 orang. Suami pun begitu gencar menyemangatiku untuk bersosialisasi. Bahkan waktu hari pertama kita menghuni istana itu, suami langsung ngasih pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa pembuktian, “Dik, kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk masyarakat di sini?”

Bu RT pun memberikan informasi kalau setiap tanggal 11 akan ada arisan PKK di balai RT (tak jauh dari istana 77). Hmm, harus ngapalin mars PKK dulu nih… *ndownload.com! ^_^ (menambah deret aktivitas emak-emak*enjoy aja!)

Konon, kata warga di sekitar kami. Kamilah pasangan termuda. Hehe. Kebanyakan para warga sudah berputra banyak, udah GD-GD, dan sudah punya cucu. Bismillah, semoga kami bisa menjadi warga baru yang baik, yang diterima dengan baik pula, dan mampu memberikan kontribusi yang maksimal, serta senantiasa memuliakan tetangga. "Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga yang jauh." (QS. An-Nisa' [4]: 36).

Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam... "Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku beranggapan bahwa ia akan mewarisi." (Muttafaq Alaih). "Barangsiapa beriman kepada Allah, dan Hari Akhir, hendaklah ía memuliakan tetangganya." (Muttafaq Alaih).

[ ]

Ohiya lupa, siapa Yusuf? Yusuf adalah seorang anak kecil yang biasa bermain di dekat kost kami dulu. Aku selalu menyapanya setiap pagi saat asyik mengepel atau menjemur baju. Kadang dia juga bertanya dengan logat khas anak-anak, “Kowe lagi ngopo, Mbak?”. Sering pula aku mendengar tangis Yusuf karena dia terluka atau saat dijahili teman bermainnya.

Sesekali aku pun berbagi kue dan bercerita banyak hal dengannya. Usianya yang baru 4 tahun membuatku semakin gemas padanya. Celoteh anak-anak yang lucu, lugu, dan apa adanya. Masih teringat jelas, tatapan nanar matanya saat aku sibuk angkut-angkut barang edisi pindahan. Tatapan sedih dan kehilangan. Ah, Yusuf… baik-baik di sana ya Nak! Kamu masih terlalu kecil untuk memahami makna sebuah ‘perpisahan’…

[ ]
Mekaten, monggo kulo aturi pinarak wonten gubug kulo…

 [Keisya Avicenna, @Istana IPK 77]
NB: Agenda terdekat di Istana IPK 77: ARISAN CABE (para alumni ETOS) Insya Allah tanggal 12 Maret 2012 jam 13.00 ^_^

Aksara Kembara [7]: “Bersamamu Memintalkan Do’a di Hari Bahagia”

by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Sunday, February 3, 2013 at 4:30am
FEBRUARI bertabur CINTA
2 Februari 2010: "Merancang Miniatur Kehidupan: 23 tahun dalam CINTA, CITA, dan CERITA 'tuk menjadi pribadi IPK [Inspiratif, Prestatif, dan Kontributif]”

2 Februari 2011: "24 : untuk jiwaku yang sedang bertumbuh, dalam rindu yang berpeluh, tuk menjadi pribadi yang TEGAR dan TANGGUH!"

2 Februari 2012: "Seperempat Abad Lebih Bercahaya dalam Jejak Kelana Sarat Makna..."

2 Februari 2013: "Menuju 26 SUKSES-BERSINAR: Jadilah engkau pribadi yang tegar dan sabar, terus bersemangat dalam segala do'a dan ikhtiar. Milikilah jiwa yang takkan pernah gentar..."

Inilah suatu masa penuh cinta...
Dalam renungan panjang penghambaanku pada-Nya

Untuk ruang kecil bernama "HATI"

Biarkan ia memecah sepi...

Mencoba hadirkan pendar cahaya dalam nurani

Merangkumnya dalam untaian dua kata: "TEPAT dan TERBAIK"
Di penghujung dua lima...
[Detik-detik pergantian usia]



Ada hati yang penuh bunga hari ini. Alhamdulillah Ya Rabb, atas segala kenikmatan dan anugerah yang Engkau beri. Akhirnya tiba suatu masa saat diri berkurang usia.

Pagi-pagi bersama suami tercinta sarapan bersama “Pecel Perjuangan Bu Mar”. Mak nyuuus banget! Apalagi sambil minum teh madu. Lanjut ngisi amunisi buat si Mega Pro, beli roti goreng then… mbolang ke MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Melewati Bukit Kencana, daerah yang baru pertama kali saya lalui. Ada satu pinta yang saya utarakan kepada belahan jiwa tercinta, saya ingin memanjatkan do’a sepenuh cinta di rumah Allah yang sangat istimewa itu, bersamanya…

Sesampai di MAJT masih sepi tapi suasana sungguh menyejukkan hati. Hanya ada beberapa siswa SMA dan gurunya sedang jalan-jalan sehabis olahraga, beberapa pengunjung masih bisa dihitung dengan jari. Akhirnya, saya dan Mas Sis jalan berkeliling dulu. Sambil tebak-tebakan. Hehe.
Saya: “Endut sayang, coba tebak pilar ungu itu ada berapa?”
Mas Sis: “Emangnya berapa?”
Saya: “Ada 25. Coba dihitung! Itu tuh Gaya Romawi. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi-kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul. Di gerbang itu ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. Masya Allah, kereeen ya?”
Mas Sis: “Hu um…”
Saya: “Tebak lagi, berapa tinggi Menara Asma’ul Husna?”
Mas Sis: “Berapa ya say? Kasih tahu nggak ya?”
Saya: “99 meter say! Mantap!”

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

Kita pun duduk-duduk sambil menikmati pemandangan yang sungguh mendamaikan hati. Cericit burung, langit biru yang luas membentang, sang bayu yang menyejukkan qalbu, wah… keren lah pokoknya!

Sekitar jam 9, kita kembali ke parkiran. Gelar rapat ‘bisnis’ di sana bersama Nur Isnaini sambil nunggu Imam juga. Alhamdulillah, dapat setangkai bunga mawar putih dari sahabat saya yang satu ini sekaligus kartu ucapan bertuliskan: “Dear Mbak Cenung, duh yang lagi seneng… Met milad ya Mbak. Barokallahu fii umrik. Moga makin langgeng sama misua dan semoga lekas diberi momongan. Aamiin ^_^. Best regards, Iis.”

Rapat pun berlangsung seru, sesaat setelah Imam datang Iis pamit karena harus ke kios. Setelah rapat selesai, saya dan Mas Sis pun kembali ke bangunan utama masjid. Duduk-duduk berdua. Sampai akhirnya, ada orang yang bisa dimintai bantuan untuk mengabadikan moment alias foto-foto. Hehe. Ah, seru dan bahagianya!



Terima kasih, sayang… <3 allah="" coz="" i="" love="" strong="" you="">
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Sebuah hadiah terindah: Ar-Rahman...

Hari ini, di kala sang mentari kembali membuka hari
Dan pagi pun datang mnggantikan shift malam…
Hari baru tlah tiba…

Selamat berkurang usia, Norma…
Semoga kedewasaan semakin terpancar dalam jiwa…
Bersiap merenda impian, dan berjuang mewujudkannya hingga jadi nyata

Berapa saldo usia yang tersisa?
Tak pernah ku tahu jawabnya…
Hanya ikhtiar dan doa penuh kesungguhan yang bisa terus ku lakukan
Semoga dengan bertambahnya usia, dengan berkurangnya jatah usia
Kan menjadikanku semakin dewasa
Menjadi sosok insan yang selalu memberikan kebermanfaatan untuk sekitarnya
Menjadi sumber inspirasi dan motivasi, terlebih untuk diri sendiri…

[Keisya Avicenna, 2 Februari 2013]



"Kaulah hadiah teramat istimewa dalam hidupku, pemberian yang TEPAT dan TERBAIK dari Rabbku..."