(Oleh : Salim A. Fillah)
Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.
Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.
“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.
Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh haru memohonkan keberkahan.
Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.
Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ad dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.
***
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.
“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.
Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”
Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.
Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
-salim a. fillah, www.safillah.co.cc-
***
NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.
MENCINTAI PENANDA DOSA
23 November 2010
Diposting oleh
KEISYA AVICENNA
di
Selasa, November 23, 2010
0
komentar
KULIAH CINTA DARI DAPUR

KULIAH CINTA DARI DAPUR (Refleksi bagi lelaki, tentang perempuan di sekitarnya)
by Fatih Zam on Monday, November 22, 2010 at 8:15am
Engkau tidak bisa protes, hai lelaki. Bahwa perempuan memang lebih tinggi ketimbang kita. Barangkali engkau pernah mendengar bahwa Nabi Saw. menyebut sosok perempuan (ibu) sebanyak tiga kali sementara lelaki (ayah) hanya satu kali. Itu jawab Nabi kala ada sahabat yang bertanya, tentang siapakah yang mesti didahulukan penghormatannya.
Ragam kisah pun sudah menggambarkan kepada kita, betapa permata seorang ibu. Mungkin engkau pernah menyimak, bagaimana seorang lelaki menggendong ibunya untuk bertawaf di ka’bah. Lelaki itu menggendong ibunya dari tempat yang sangat jauh. Bertemulah dia dengan Nabi Saw, lalu bertanya, “Apakah sudah lunas utang budiku kepada ibuku?”
Lelaki tersebut tidak mendapatkan pengaminan dari sang Nabi. Karena apa yang dilakukannya belumlah seujung kuku.
Lalu, kita pun akan menjumpai kisah kontemporer. Tentang citra-citra anak yang durhaka dan mendapatkan kutukan mengerikan. Salah satunya barangkali Malin Kundang. Atau, Al Qamah di zaman Rasulullah. Mereka adalah aktor-aktor yang berperan sebagai manusia durhaka yang mengalami kesakitan di akhir hayat, tersebab oleh hal yang sama; mendurhakai ibunya, mendurhakai perempuan.
Sebuah tanya besar lantas menggantung dalam benak kita; kenapa Nabi Saw. mewartakan bahwa kaum perempuanlah terbanyak di neraka?
Mungkin, karena fitrah perempuan adalah bengkok. Karena dia tercipta dari rusuk Adam. Hal ini pun lalu menjadi sebuah informasi yang banyak disalahguna para lelaki. Para lelaki mengklaim bahwa kebengkokan perempuan ini mestilah diluruskan. Siapa yang meluruskan, tentu para lelaki (karena mereka yang memiliki klaim). Untuk mengesahkan klaim ini, para lelaki lalu menambahkan bahwa tabiat rusuk memang bengkok dan mesti pelan-pelan meluruskannya. Karena tulang rusuk begitu rapuh, dan semacamnya. Itulah klaim lelaki, yang lalu disulap menjadi klaim dunia. Kesepakatan bersama.
Klaim ini terus mengambang di angkasa dunia. Klaim bahwa tugas lelaki adalah sebagai arsitek yang meluruskan kebengkokan rusuk perempuan. Klaim yang ternyata membutakan mata para lelaki, bahwa kebanyakan mereka bukannya meluruskan tapi malah mematahkan. Tidak terpikir oleh para lelaki, bahwa bengkok itu tidak akan pernah lurus. Ya, bengkok itu selamanya tidak akan pernah lurus.
Satu pertanyaan besar untuk pernyataan saya “bahwa bengkok itu tidak akan pernah lurus” adalah; apa yang salah dengan ‘bengkok’? Apakah keindahan itu mesti selalu lurus?
Hal yang tidak mungkin bisa disangkal adalah bahwa lelaki adalah pemimpin perempuan. Itu sudah terukir di kitab suci. Tetapi, tidak serta-merta bahwa lelaki adalah pemimpin perempuan, lantas lelaki naik tahta menjadi sosok raja yang mesti “iya” segala inginnya. Sampai-sampai, sang pemimpin itu melakukan pemaksaan bahwa kebengkokan harus gegas diluruskan. Kepemimpinan yang membutakan sang raja, bahwa tangan besi pun adalah halal adanya.
Tidakkah kita, para lelaki, berpikir bahwa—sadar maupun tidak—kitalah yang memiliki andil menjebloskan perempuan itu ke liang neraka? Tidakkah kita berpikir bahwa akan selalu ada resiprokal di dunia ini. Tidak ada akibat tanpa sebab. Mungkin, perempuan itu tidak tahan dengan “tangan besi” sang raja. Sedangkan ketidakpatuhan perempuan (istri) kepada lelaki (suami) mampu mengundang marah malaikat. Kita (para lelaki) kadang tidak menyadari bahwa mereka punya batas kapasitas. Pemaksaan kitalah yang menyebabkan mereka berada pada satu pilihan yang memang satu-satunya; memberontak. Dan imbalan dari pemberontakan itu adalah laknat malaikat.
Oya, saya tidak sedang menjadi seorang feminis. Bukan pula seorang yang sudah berpengalaman “menangani” perempuan. Sama sekali bukan. Ini tersebab karena saya pun adalah aktor yang telah beberapa kali membuat kecewa perempuan, khususnya ibu saya.
Waktu kecil bahkan hingga kini—tanpa saya sadari—saya masih saja menanam duri kepada ibu saya. Saya selalu mengeluh dengan “pelayanan” ibu saya, mulai dari cucian yang tidak bersih, makanan yang tidak enak (sesuai lidah saya tentunya), dan lain-lain. Saya pun lalu menjumpai ibu saya marah, meski lebih banyak diamnya. Saya tidak berpikir, bahwa ulah saya itu pelan-pelan telah menempatkan ibu saya di posisi yang sulit, yakni—mungkin—mendapat laknat malaikat. Itu saya lakukan terus-menerus, hingga barangkali kejengkelan ibu saya sudah bertumpuk dan beranak pinak.
Beberapa waktu terakhir ini, saya selalu menyempatkan diri memasak. Meskipun masakan yang saya buat masih sederhana, dan baru lidah saya yang mengatakan bahwa masakan itu layak disebut sedap. Dari aktivitas ini, saya lalu menemukan pelajaran permata. Bukan semata pelajaran tata boga, tetapi lebih dari itu. Dari dapur inilah, saya menemukan bahwa adalah cinta yang membuat perempuan (istri sekaligus ibu) bertahan dan menghabiskan separuh usianya untuk berada di dapur; memasak makanan.
Di dapur, saya kadang mengiris bawang, cabai, dan bumbu lainnya. Bawang merah mampu memedihkan mata, bawang putih baunya luar biasa, cabai pun takayal memedihkan segala. Belum lagi cipratan minyak goreng panas, baunya terasi, asap yang menyergap. Mata memerah, keringat keluar, belum bau-bauan yang menusuk hidung sampai menimbulkan bersin, terkadang jari teriris pisau, adalah pengalaman yang saya dapatkan ketika beraktivitas di dapur. Luar biasa besar pengorbanan yang mesti disajikan hanya untuk mendapatkan satu atau dua porsi makanan.
Saya lantas bertanya kepada diri sendiri, bagaimana bisa seorang perempuan (istri sekaligus ibu) melakukan ini semua? Bahkan bukan sekali dua, melainkan separuh masa usia! Saya pun bertanya kepada diri saya sendiri (mewakili kaum lelaki), bagaimana bisa saya marah-marah seenaknya tersebab makanan yang tidak sesuai dengan keinginan saya? Bagaimana bisa saya mengeluh sampai berpeluh? Bagaimana bisa…bagaimana bisa….bagaimana bisa….?
Gampang saja bagi lelaki (anak atau suami) untuk memberikan penilaian tentang masakan. Gampang saja bagi lelaki untuk mengatakan bahwa masakan itu belum layak dikatakan enak, dan lain-lain. Dan secara manusiawi, kita pun seharusnya memaklumi, jengkel atau marahnya seorang perempuan (istri sekaligus ibu) ketika mendapati diri kita sebagai sosok yang tidak memiliki kepekaan menghargai.
Itu baru dari memasak, belum dari mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, mengelola keuangan, dan sebagainya. Bisakah lelaki mengerjakan itu semua dalam satu waktu? Patutkah kita marah-marah kepada mereka atas apa yang mereka kerjakan, sementara Nabi Saw berkata bahwa bentuk jihad perempuan adalah di rumahnya?
Tuhan, ampuni saya yang sudah menjelma lelaki durhaka. Lelaki yang sudah menyulap jihad mereka menjadi sesuatu yang tidak berharga. Lelaki yang telah menjungkalkan mereka ke liang neraka, dengan ingin dan pinta yang bahkan tidak sesuai realita.
Tuhan, muliakanlah para ibu, para istri, dan para perempuan. Tuhan, berikanlah kepekaan hebat kepada para lelaki. Jadikanlah kami lelaki yang selalu menghargai. Amin.
::catatan reflektif
Fatih ZAM
Diposting oleh
KEISYA AVICENNA
di
Selasa, November 23, 2010
0
komentar