Aksara Kembara [11] : “OBAH KABEH, MUNDAK AKEH” [Deklarasi ‘Pasukan Cinta’ bersama Ustadz Anis Matta]

29 Maret 2013

by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Wednesday, March 27, 2013 at 8:29pm

17 Maret 2020
Waktu Dhuha bertabur cinta, tampak kesibukan di ruang keluarga. Di sebuah rumah sederhana namun menelusup sebuah rasa bahagia, gambaran sakinah, mawaddah, warohmah para penghuninya.

Althaf : “Ummi, Althaf bantuin Ummi beres-beres buku, ya!”

Ummi Keisya : “Iya, anak sholeh. Althaf memang anak Ummi dan Abi yang sangat rajin.”

(Althaf tersenyum bahagia lalu ia membantu menata buku-buku di rak. Sesekali membersihkan sampul buku apabila ada yang berdebu dengan kemoceng kecil warna hijau yang sedari tadi dipegangnya. Alhamdulillah, Althaf tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Tahun ajaran baru nanti ia sudah masuk kelas 1 SD di SDIT Bina Insani Semarang.)

(Althaf kembali sibuk menata buku di rak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan Umminya. Buku Ummi, buku Abi, buku Althaf, dan buku Yasmin dipisahkan dan punya rak masing-masing sehingga mudah ketika mencari atau mengambil buku yang diinginkan jika mereka mau membaca. Yasmin –adik Althaf yang baru berumur tiga tahun- sedang asyik bermain puzzle barunya, oleh-oleh Abi dari Jakarta)
Althaf : “Ummi, buku jenis ini kok jumlahnya banyak to Mi? Sampulnya juga seragam. Buku apa sih?” (Rasa penasaran Althaf mulai menguasai)

Ummi Keisya : “Wah, Althaf menemukan buku-buku itu dimana Sayang? Sudah lama Ummi tidak membacanya.”

Althaf : “Di bagian ini, Mi” (Althaf menunjuk bagian rak paling bawah. Rak buku itu memang memiliki 3 laci luar berukuran sedang)

Ummi Keisya : “Tolong dibawa ke sini, sayang! Ummi pengin lihat.”

Althaf : “Semuanya, Mi? Kan beraaat...” (Althaf pasang muka protes dan memelas ^_^)

Ummi Keisya : “Enggak usah semua to ya... 3 buku saja, Nak!”

(Althaf pun segera mengambil 3 buku dan berjalan ke arah Umminya lalu diserahkan buku-buku itu. Masih dengan rasa penasaran  yang belum tuntas, Althaf pun duduk di samping Umminya. Yasmin pun ikut-ikutan dan minta dipangku Umminya.)

Ummi Keisya : “Althaf, buku-buku ini adalah buku catatan harian Ummi ketika dulu awal-awal menikah dengan Abi. Althaf dan Yasmin mau nggak dengerin ceritanya Ummi...”

Althaf mengangguk cepat, Yasmin pun ikut-ikutan mengangguk.

Ummi Keisya pun mulai bercerita tentang kebahagiaan hidupnya, bercerita tentang Abi yang sangat sayang dengan keluarga, dan juga tentang masa kecil Althaf. Kedua kakak beradik itu pun sangat antusias mendengarkan.

Althaf : “Wah, seru ya! Jadi dengan menulis itu kita jadi bisa ingat tentang hal-hal yang sudah pernah kita alami, ya Mi?”

Ummi Keisya : “Iya, Sayang...”

Althaf : “Eh Ummi, Althaf jadi ingin tahu apa yang pernah Ummi dan Abi lakukan sekitar 7 tahun yang lalu. Berarti saat Althaf belum lahir, ya? Coba, Mi... Kalau 2020 dikurangi 7 berarti tahun 2013. Ayo, Mi diceritain kejadian tanggal 17 Maret 2013. Althaf penasaran nih!”

Ummi Keisya : “Oke, sabar ya Sayang... Ummi cari dulu.”

(Ummi Keisya pun membolak-balik buku DNA bersampul hijau itu sampai akhirnya matanya tertuju pada tulisan Ahad, 17 Maret 2013. Aksara-aksara itu seolah membawanya kembali ke masa lalu. Ibarat Doraemon yang mengajak Nobita, Suneo, Giant, dan Shizuka berpetualang ke masa lalu dengan menggunakan mesin waktu lewat laci meja belajarnya Nobita. Ummi Keisya pun mulai menelusuri kata demi kata dan tergambar jelas dalam memorinya apa yang pernah ia alami di masa itu...)

Penasaran kan apa yang ditulis Ummi Keisya di buku DNA-nya? Ikut berpetualang, yuk!
[ ]

Ahad, 17 Maret 2013
Dee, pagi ini adalah pagi yang sangat membahagiakan. 17 Maret di Istana 77. Ba’da Subuh saya dan Mas Sis sudah selesai bersih-bersih dan beres-beres rumah karena hari ini akan ada banyak agenda. Tepat jam 6 kami sudah berkumpul dan bergabung dengan para warga RW 10 untuk mengikuti kegiatan rutin satu bulan sekali, yaitu jalan sehat. Sebagai warga baru di lingkungan RW 10, kami belajar untuk aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh warga masyarakat.

Jalan sehat berlangsung kurang lebih 45 menit dilanjutkan istirahat sejenak. Kebetulan RT kamilah yang mendapat jatah untuk menyiapkan konsumsi. Pagi itu Alhamdulillah, kami bisa menyantap segelas susu segar, segelas sari kacang hijau, dan camilan berupa arem-arem, sosis, dan keripik. Mantap dah! Setelah dirasa cukup istirahatnya, Pak RW mengomando warga yang hadir kala itu untuk membuat barisan. Wah, bakalan senam bareng nih! Asyik-asyik... Saya pun mengambil posisi di belakang Mas Sis. Kayaknya kamilah pasangan termuda, yang lain sudah seusia babe dan ibuk serta banyak juga yang sudah yangti-yangkung. Uhuy... Seru banget! Dan badan jadi tambah segeeer...

Selesai kegiatan senam, Mas Sis masih lanjut tenis meja di balai RT bersama bapak-bapak, saya memilih segera balik ke rumah dan bikin jus jambu. Hmm, seger-seger... Slrrruuup...

Waktu sudah menunjukkan pukul 8, kami pun segera bersiap untuk menghadiri acara yang sangat istimewa hari ini. Bertempat di Ballroom Hotel Horison Semarang, akan ada orasi politik dari Ustadz Anis Matta sekaligus pembekalan untuk para kader PKS Semarang. Sesampai di lokasi peserta sangat membludak. Asyik, saatnya memperkokoh ukhuwah nih.

Berpisah sejenak dengan suami tercinta, beliau segera bergabung dengan barisan para ikhwan, saya pun duduk di deretan para akhwat. Dan surprisenya akhirnya Allah mempertemukan saya dengan mbak Nurul dan mbak Riri Margono (sahabat saya di dunia maya dan akhirnya hari itu Allah mempertemukan kita di dunia nyata). Mereka berdua sudah standby di shaf terdepan. Saya pun akhirnya turut membersamai mereka. Wuiz, makin heroik aja nih suasananya.

Acara dipandu oleh 2 MC yang kocak dan seru. Jargon kita hari ini : OBAH KABEH, MUNDAK AKEH! (dengan gaya yang sangat ngawu-awu sekali). Sempat juga diputarkan video yang vokalisnya Mas Alief Indonesia, judulnya DADI HUMAS. Yups, pas di meja penyambutan tamu tadi pun kita diberi snack, air mineral dengan logo PKS serta bendera PKS dan stiker yang bertuliskan “Ayo, Sukseskan Gerakan Kabeh Dadi Humas” terus ada gambar Pak Blangkon-nya. Lucu!

Setelah pembukaan, ada tasmi’ yang dibawakan oleh 2 anak usia SD. Paling merinding saat tasmi’ Ar-Rahman. Huaaa... Langsung menunduk dan ikut muroja’ah. Setelah tasmi’ selesai, Mbak Nurul sempat njawil... “Wah, surat Ar-Rahman Mbak... pasti Mbak seneng banget nih!” Saya pun tersenyum bahagia... Selanjutnya, kami semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars PKS dengan penuh semangat! Wow, dahsyat! Lantai satu dan dua penuh...

Acara selanjutnya, ada hiburan dari KAE Nasyid. Mereka membawakan tembangnya Afgan dan The Massive...
“Kau tempatku meminta... Kau beriku bahagia... jadikan aku selamanya hamba-Mu yang slalu bertaqwa. Ampuniku Ya Allah, yang sering melupakan-Mu. Limpahkan segala karunia-Mu, dalam sunyi aku bersujud...pada-Mu...”

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tuhan pastikan menunjukkan, kebesaran dan kuasa-Nya. Bagi hambanya yang sabar dan tak pernah putus asa. Jangan menyerah... jangan menyerah... jangan menyerah...”

(Huaaa, tahu nggak sih Dee itu kan tembang-tembang favorit saya apalagi lagu yang ketiga Insya Allah-nya Kang Maher Zain feat. Fadli. Jadi ikutan konser deh... *mantan munsyid. Hihi. STREAM-er.com)

Selanjutnya ada surprise lagi nih. Berasa kayak nonton X-FACTOR secara live. Penampilan selanjutnya dari AWAN. Uhuy... seruuu dan kocak abis. Setelah AWAN unjuk kebolehan beberapa tembang (tapi belum selesai) tampak di deretan kiri panggung rombongan Ustadz Anis Matta. Mata ini menangkap juga sosok Ustadz Cahyadi Takariawan, Ustadz Mahmud Mahfudz (dulu sering jumpa beliau saat masih di Solo), dan beberapa ustadz yang lain. Wuizzz, bersyukur banget bisa duduk di shaf terdepan. Ohya, kalau ada bapak-bapak yang asyik nyuting di depan saya, saya jadi teringat dengan pakdhe saya yang hobi nyuting di Solo, sapa lagi kalau bukan bosnya FOTOMAT, Pakdhe Taqim yang huum banget itu. Hehe.

AWAN pun diminta Ustadz Anis Matta untuk melanjutkan aksi kocaknya saat rombongan ustadz itu sudah duduk rapi bersila di panggung. Hiburan yang lain ada karawitan Jawa dan nembang oleh seorang seniman. Pak siapa ya namanya, saya amnesia. Hehe. Terus ada aksi kita nembang Ilir-ilir bersama AWAN dan semua ustadz yang ada di panggung. Kereeen banget deh!

Dan inilah yang kami tunggu-tunggu. Orasi yang ‘kaya’ dan penuh daya gugah dari Ustadz Anis Matta. Kesan pertama yang sungguh menggoda, cetar menggelegar. Beliau menyampaikan : “Bahwa saya sangat mencintai antum semua...” Semuanya langsung bertakbir. ALLAHU AKBAR!!!

Ustadz Anis Matta pun sempat menyampaikan selarik puisi gubahan muridnya Jalaludin Rumi, Muhammad Iqbal :
“Dan nafas cintamu meniup kuncupku jadi bunga...”

Beliau pun mengatakan, bahwa nilai tertinggi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah HARMONI. Bagaimana tidak? Kita hidup dalam satu wilayah dengan etnis yang sangat beragam, mendiami wilayah yang terpisah-pisah. Justru hal inilah yang membuat kita saling merindukan. Perbedaan yang sangat ekstrem membuat kita merindukan rasa persatuan. Pun dulu ketika ada ikrar SUMPAH PEMUDA (Hehe, kenapa saya tiba-tiba jadi ingat moment khitbah keluarga tanggal 28-10-12 kemarin ya? Wkwkwk*plaaak). Waktu itu muncul kekuatan dan kehendak untuk bersatu, hidup damai, menepis perbedaan, serta hidup dalam satu lingkar mufakat yang besar. Harmoni, inilah ‘core value’ masyarakat Indonesia. Ya, Ustadz Anis pun menyampaikan kembali semangatnya lewat sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua : “IZINKAN KAMI MENATA ULANG TAMAN INDONESIA.”

Beliau mengatakan bahwa Indonesia itu ibarat taman dan masyarakat Indonesia adalah bunga. Bunga yang punya warna dan ciri khas sendiri-sendiri. Indonesia is the flower society. Maka, tiupkanlah nafas cinta ke dalam ‘bunga’ itu, maka dia pun akan mekar dengan penuh cinta. Ustadz Anis Matta pun mengingatkan tentang fenomena politik Indonesia sekarang ini. Justru kita bisa rasakan seolah politik itu ‘mengerikan dan sangat menakutkan’. Beliau pun berpesan, untuk membuat ‘politik yang ada sparklingnya’. Hehe. Kayak minuman yang bersoda... Lakukan tugas-tugas yang berat dengan hati yang riang. Wuiz, mak jleb! Dan jadilah “PASUKAN CINTA”! Saat semua orang diayomi dengan sebaik-baiknya, dan setiap orang adalah HUMAS bagi yang lainnya. Sipp, mantaaap!

Jelang Dhuhur acara pun selesai (sempat mengabadikan moment dulu bersama mbak Nurul dan mbak Riri. Hehe) dan jam 13.00 kita akan kembali berkumpul tetapi berpindah tempat yakni di GOR Jati Diri Semarang. Akan ada deklarasi 6 partai politik yang akan sama-sama mendukung dan menjadi tim sukses pasangan calon gubernur dan wakil gubernur no.3 (HP-DON)!

Saya dan Mas Sis pun shalat Dhuhur terlebih dulu di daerah Jatingaleh. Pas mau keluar masjid kita bertemu dan menyapa Ustadz Mahmud Mahfudz, yang baru selesai shalat. Sempat ditanya beliau : “Mau lanjut ke Jatidiri?” Kompak kita menjawab, “Iya, ustadz...” Hehe. Selanjutnya, tujuan kita : GOR Jati Diri. Wuaaa, rameee banget! Alhamdulillah, dapat makan siang. Hehe.

Wah, banyak sekali atraksi yang ditampilkan. Ada barongsai, tari-tarian, drumband dari akpol, paskibra yang membawa Sang Saka Merah Putih dan 6 bendera parpol. Acara yang ditunggu-tunggu adalah puncak deklarasi dan orasi politik dari ketua pusat masing-masing parpol (yang saya tahu ada Ustadz Anis Matta_Presiden PKS dan Prabowo Subianto_Gerindra. Meriah banget euy!!!

Alhamdulillah, hari ini benar-benar menjadi hari bersejarah yang penuh hikmah dan semoga bertabur berkah. Yuks, sebagai warga Jateng jangan lupa tanggal 26 Mei ke TPS-TPS terdekat untuk memilih pemimpin Jawa Tengah yang kelak mampu menjadikan Jawa Tengah lebih baik...

Yuks, KABEH DADI HUMAS!
“OBAH KABEH, MUNDAK AKEH...” ^_^

[ ]

Ummi Keisya pun selesai meceritakan apa yang dialaminya bersama Abinya anak-anak dengan gaya bercerita yang menarik seperti ketika mendongeng dan dengan menggunakan bahasa khas anak-anak. Ummi Keisya seolah mengajak mereka berkelana ke sebuah tempat yang indah karena banyak cinta dalam balutan ukhuwah. Ummi Keisya pun menyampaikan kesimpulan dari apa yang telah diceritakannya tadi...

Ummi Keisya : “Nah, seru kan pengalaman Abi dan Ummi? Jadi, kita sesama saudara wajib saling membantu. Abi sama Ummi tadi kembali belajar tentang indahnya ukhuwah. Apa itu ukhuwah, Nak? Ukhuwah itu artinya persaudaraan. Ukhuwah itu dilandasi oleh rasa cinta karena Allah dan merasa terikat satu dengan yang lainnya. Coba deh Althaf sama Yasmin perhatikan kemoceng kecil itu (Althaf pun menatap kemoceng yang masih dipegangnya, seperti biasa Yasmin ikut-ikutan kakaknya.) Kemoceng itu terdiri dari banyak bulu ayam, kalau bulu ayamnya hanya satu pasti susah dan lama kan kalau dipakai membersihkan debu? (Kedua kakak beradik itu mengangguk). Tetapi kalau bulu-bulu ayam yang banyak itu disatukan pasti kemoceng itu dapat bermanfaat lebih banyak dan lebih cepat digunakan apabila ingin membersihkan debu. Nah, itu juga tentang indahnya ukhuwah. Althaf dan Yasmin juga harus saling membantu, sama Abi dan Ummi pun juga harus saling membantu dan saling menasehati dalam kebaikan. Sipp, sepakat? Toaaas dulu...”
(Mereka bertiga pun toast bersama lalu tertawa gembira...

Abi : “Assalaamu’alaykum... wah wah wah... sepertinya ada yang seru banget nih...” (Abi baru pulang setelah tadi malam ada acara mabit)

(Ummi, Althaf, dan Yasmin kompak menjawab salam Abi)

Althaf : “Iya nih Bi... Ummi habis cerita seruuu banget.”

Abi : “Cerita apa nih? Abi kok nggak dikasih tahu kalau mau ada acara ‘MENDENGARKAN CERITA UMMI’...” (dengan logat dan intonasi seperti pembacaan judul filmnya DORAEMON. Xixixi...)

Ummi Keisya pun memberikan isyarat kepada suaminya itu dengan kerlingan mata. Hehe.

Abi : “Eh, Abi ada berita gembira nih! Siapa yang mau dengar berita gembiranya Abi?”

Kompak semua menjawab dan seketika ruang keluarga itu menjadi riuh. “Mau... mau... mau...”

Abi : “Nah, tanggal 20 Maret nanti Pakdhe Febri mau dilantik jadi Bupati Lahat. Tanggal itu juga akan ada syukuran pelantikannya sekaligus tasyakuran ulang tahun pernikahan Pakdhe Febri dan Budhe Thicko yang ke-8. Siapa ya yang mau ikut Abi berpetualang ke Pulau Sumatera? Yang mau ikut cium pipi Abi dulu...” (Abi Sis bercerita dengan penuh rasa bahagia sambil menunjukkan tiket pesawat Semarang-Palembang yang sudah ada di genggaman tangannya. Di tiket itu tertera jadwal keberangkatan tanggal 19 Maret.)

Kompak semua berteriak, “Horeeeeeeee... Asyiiik, berpetualang ke Sumatera!” Abi Sis pun mendapatkan hadiah ciuman penuh cinta dari bidadarinya serta kedua jundi kecilnya.

Ummi Keisya : “Ayooo, sekarang kita bagi tugas dan dilanjutkan beres-beresnya. Terus nanti bantuin Ummi nyiapain semua keperluan kita untuk berpetualang ke Sumatera! Oke, siaaap?”

Althaf : “Siaaaaap...”
Yasmin : “Chiaaap...”
Abi Sis: “Oke, siaaap Bos cantik... ^_^!”

Mereka berempat pun kembali tenggelam dengan kesibukan membereskan ruang keluarga. Si kecil Althaf sudah sibuk membayangkan serunya petualangan tanggal 19 Maret nanti, serunya bisa bertemu dan bermain-main bersama Azzam dan Azmi juga kak Devdan, kak Aisyah, dan saudara-saudara yang lain di Lahat.

[Keisya Avicenna, 23 Maret 2013. Ditulis dengan aksara-aksara visioner yang penuh cinta dan senyuman... xixixi ^_^]

*Pilihan Kaum Scientist!

Aksara Kembara [10] : Ka De eR Te

by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Wednesday, March 13, 2013 at 11:32am
 
Keputusan seorang anak manusia untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya, dari sendiri jadi punya pasangan adalah  salah satu perjuangan hidup yang luar biasa. Bagaimana tidak? Namanya saja sudah rumah tangga. Sebuah kata majemuk yang satu katanya erat hubungannya dengan satu kata yang lain. Kita tahu tangga itu identik dengan suatu alat/ benda yang berfungsi untuk memudahkan seseorang menjangkau area yang lebih tinggi. Butuh tahapan-tahapan untuk menaikinya. Dari anak tangga pertama sampai pijakan yang sesuai dengan yang dikehendaki. Tak jarang di pijakan awal sering terpeleset, kurang pas posisinya, bahkan terjatuh karena licin atau baru adaptasi awal karena merupakan pengalaman yang pertama kali dalam hidupnya. Itulah tangga! Pun untuk mencapai posisi yang stabil semuanya butuh proses, butuh usaha yang tak semudah membalikkan telapak tangan.

Adapun rumah itu ibarat organisasi. Coba tengok rumah kita. Ada bagian teras, ada bagian ruang tamu, ada ruang keluarga, dapur, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, gudang, garasi, dsb. Semua punya ‘amanah’ masing-masing. Yang satu saling melengkapi yang lainnya. Yang satu saling menggenapkan fungsi yang lainnya. Misal, setelah seharian sibuk beraktivitas, badan rasanya capek dan butuh kesegaran. Raga pun segera beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri lalu ke kamar tidur dan merebahkan badan menghilangkan rasa lelah.
Yups, rumah tangga!

Lalu kenapa judulnya KDRT (kalau disingkat)? Hehe. KDRT di sini bukan berarti Kekerasan Dalam Rumah Tangga, adopsi dari sebuah buku yang judulnya KDRT juga. Kekonyolan Dalam Rumah Tangga. Saya pun punya KDRT yang lain: Keremphongan Dalam Rumah Tangga, Keharmonisan Dalam Rumah Tangga, dan Kekompakan Dalam Rumah Tangga. Saya ingin share pengalaman saya selama 4 bulan ini mengayuh biduk rumah tangga, masih seumur jagung sih! Namun, saya ingin mengabadikan moment-moment seru bersama seseorang yang Insya Allah menjadi teman hidup saya di sepanjang sisa usia.

KDRT [1] : Keremphongan Dalam Rumah Tangga
Alhamdulillah, sudah 1 pekan ini kami menempati kontrakan yang baru di Istana 77. Keremphongan awal sudah tampak saat kami pindahan dari kost-kostan menuju kontrakan. Alhamdulillah nya, kami mendapat pinjaman mobil pick-up dari DPC Banyumanik. So, ongkos pindahan bisa dihemat. Baru berdua aja barang-barangnya sudah berkardus-kardus. Apalagi kardus-kardus itu kebanyakan milik saya, isinya buku-buku dan pernak-pernik. Haha. Jadi merasa bersalah. Saat boneka Doraemon saya yang super GD (kado pertama saat saya menginjakkan kaki pertama kalinya di kostan kami di Bogor), yang saya kasih nama Sisemon (xixi), terjatuh dari mobil pick up. Saking dia nggak dapat tempat. Untungnya, ada anak Etos yang waktu itu motoran dari belakang (yang juga turut membantu keremphongan kami). Dia yang menemukan dan mengambil Sisemon yang ‘nyungsep’ itu. Hihi. Lucu begete lah…

Keremphongan pun berlanjut, hari pertama kami pindahan -biar capeknya sekalian- akhirnya saya dan suami pun memutuskan untuk lanjut bersih-bersih dan beres-beres. Penataan barang-barang sesuai dengan tempatnya. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya memiliki seorang suami yang rajin, cinta kebersihan dan keindahan, pantang buang sampah sembarangan, dan selalu penuh kejutan. Wkwkwk. Meski terkadang sifat pelupanya muncul di saat yang kurang tepat. Tapi inilah saatnya saya yang ambil bagian. Haha. Beliau pun sangat berperan besar dalam proses penataan barang-barang kami itu. Dimana harus menaruh kulkas, almari, naruh rak piring, letak tempat sampah, bikin gantungan buat wajan n the gank, dsb. Keremphongan juga terjadi saat kami berdua membeli beberapa perkap yang dibutuhkan.

Keremphongan selanjutnya, tanggal 11 Maret kemarin adalah kali pertama saya ikut arisan PKK ibu-ibu di RT tempat tinggal saya. Perasaan di hati saya waktu itu campur aduk nggak jelas. Tapi saya sudah ngantongi salah satu modal. Gak terlalu penting sih, tapi rasa-rasanya penting juga. Saya sudah cukup hafal Mars PKK. Karena Ibuk dulu pernah beramanah sebagai ketua RT, terus kalau pas ada arisan di rumah, ibu-ibu pasti akan menyanyikan Mars PKK. Jadi ya, saya yang tipe pembelajar auditori sedikit-sedikit hafal di luar kepala. Hehe. Pertama jumpa dengan ibu-ibu se-RT. Wajah-wajah baru dengan beragam karakter. Clingak-clinguk… ups, sayalah anggota termuda. Kebanyakan seusia ibuk saya dan banyak juga yang sudah berstatus ‘yangti’. Tapi, kata Ibuk yang penting PD, siap belajar, dan ramah pada semua orang. Waktu itu setelah acara inti selesai, oleh Bu RT saya diberikan waktu khusus untuk memperkenalkan diri. Uhuy… arisan PKK pertama saya berhasil saya lalui dengan mulus. Alhamdulillah… ^_^

Keremphongan selanjutnya terjadi pada suatu pagi saat saya ingin melanjutkan kembali belajar merajut. Ya, insya Allah saya punya jadwal belajar merajut di hari Jum’at dari pagi sampai siang. Gratis. Dan lokasinya lumayan dekat dari rumah. Waktu itu saya mendadak sibuk mencari hakpen saya (jarum rajut). Perasaan Subuh tadi saya masih lihat hakpen itu di dekat keranjang, tempat biasa saya menaruh charger HP. Saya yakin banget. Duh, dimana ya??? Saya cari dimana-mana tidak ada. Yasudahlah, kegiatan merajut saya alihkan dengan merampungkan membaca novel anak karya Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka. Meski dalam hati masih menaruh perasaan penasaran, dimana ya hakpen itu? Sempat terpikir SMS suami karena siapa tahu nyasar di tasnya. Tapi saya urungkan dan lebih memilih untuk asyik membaca.

Malam harinya saat ngobrol santai dengan suami, saya pun bertanya tentang hakpen itu. Dan apa jawabannya, dengan pasang wajah polos tanpa dosa (halah), suami pun mengeluarkan sebuah buku karya pak Heppy Trenggono, membukanya, sambil senyam-senyum nggak jelas lalu mengeluarkan batangan warna kuning dari bukunya itu. Aih, itu hakpen saya!

“Lha Mas tadi bingung ogh nyari pembatas buku, yasudah to, nemu ini terus Mas pake…” Huaaa, sedetik kemudian suami saya hadiahi banjir cubitan. Wkwkwk. Rasain! ^_^

Sekian kisah Keremphongan Dalam Rumah Tangga yang bisa saya tuliskan, masih banyak kisah remphong yang lain yang membuat hari-hari dalam rumah tangga saya menjadi penuh warna.

KDRT [2] : Keharmonisan Dalam Rumah Tangga
Keharmonisan dan keromantisan adalah saudara kembar. Hehe. Harmonis itu selaras, serasi, dan seimbang. Dan romantis itu tidak hanya sekadar berkata-kata tapi lebih pada aksi nyata Yups, saya dan dirinya ibarat sebuah puzzle. Adanya saling melengkapi dan tiadanya saling mengisi. Apakah saya pernah ngambek? Pernah! Apakah saya pernah menangis? Pernah! Apakah saya pernah jengkel? Pernah! Tapi semuanya menjadi mozaik kehidupan yang sungguh bertabur hikmah.

Ketika saya jengkel, saya tipe orang yang nggak bisa marah dan meledak-ledak. Ya, saya akui itu. Kalau muncul perasaan itu, saya redam dan melegakan hati saya dengan cara menangis. Hehe. Bukan berarti cengeng kan? Tapi bagi saya, air mata juga simbol ketegaran. Dan inilah salah satu cara saya dan perlahan suami pun paham. Kalau saya sudah ‘diem’ (nggak seperti biasanya. Xixixi. Eits, saya kalem kok! *plak!), pasti suami langsung menangkap ada yang tidak beres pada diri saya. Pun ketika tiba-tiba menangis, pasti ia langsung mendekat dan bertanya, “Lho adik kenapa menangis? Mas paling sedih kalau lihat adik nangis…” wkwkwk. Luculah gimana cara suami menghibur saya. Biasanya kami langsung saling memaafkan terus suami langsung ngajak saya jalan-jalan atau nraktir makan atau membelikan sesuatu. Ah, ternyata tips mengatasi saya ketika saya ngambek dulu sudah pernah ia tanyakan kepada kembaran saya. Dasaaar! Jadi ya, saya nggak jadi ngambek deh… ^_^ (maklum si bungsu).

Bagi saya romantis itu tidak sekadar pulang kerja lalu membawa kejutan dengan membawakan seikat bunga. Tapi, ditraktir sebungkus kebab kesukaan saya itu jauh lebih romantis. (Haha, ngemil mulu ni orang!) Apalagi saat ia berinisiatif membantu saya dalam urusan domestik. Tiba-tiba menyetrika semua baju saat saya terlelap tidur siang, tiba-tiba mencuci baju saat saya remphong di dapur, dsb. Itu juga bagian dari romantisme lewat aksi nyata yang sungguh penuh cinta yang membuat saya merah merona.

KDRT [3] : Kekompakan Dalam Rumah Tangga
Jujur, setelah resmi saya menjadi istrinya hal yang paling membuat saya deg-degan adalah bisa nggak ya saya beradaptasi dengan sosok yang baru saja saya kenal itu. Tapi Alhamdulillah, yang namanya jodoh ternyata di banyak sisi kita punya kemiripan. Dalam hal sifat juga, ada yang sama persis ada yang harus saling melengkapi. Pun juga ada sebuah tanda lahir yang sama. Kita sama-sama punya tahi lalat besar di dekat siku tangan kanan dengan posisi yang sama. Hehe. Pertama kali saat kita tahu dulu, kita berdua langsung heboh sendiri. Koyo cah cilik enthuk permen sunduk! Mehehehe…

Kekompakan itu mulai menghiasi hari-hari kita. Kompak dalam banyak hal. Salah satunya ketika memasak. Jujur, saya akui, suami saya jauh lebih pintar memasak daripada saya. Dari kecil, ia sudah terlatih mandiri. Kehilangan sosok ayah, membuatnya lebih bijak dan dewasa. Pun dengan rasa sayangnya kepada keluarga besarnya. Dari beberapa saudara, dialah yang lebih hafal nama-nama para ponakan yang jumlahnya bejibun itu berikut tabiat dan karakternya. Nah, kalau untuk urusan memasak Alhamdulillah sekarang saya pun mulai menyainginya. Nggak mau kalah dong! Bersyukur sekali rasanya punya suami yang nggak malu ketika belanja ke pasar bersama istri, ketika harus memotong sayuran, ketika harus menyiapkan bahan masakan, dsb.

Keterampilan memasak inilah yang selalu membuat saya merindu sosok Babe di Wonogiri. “Cenung temukan sosok Babe di menantumu yang satu ini, Be…” ^_^ Babe yang sangat sabar, humoris, dan jago masak. Kalau pas lagi masak bareng, pembagian tugas itu ‘ngalir’ dengan sendirinya. Kadang saya yang nyiapin bumbu, suami yang nyiapin bahan, terus remphong deh masak berdua sambil sesekali bercerita dan tertawa penuh canda. Ngekngok momentum lah… Yups, sekali lagi saya bersyukur punya suami yang tak segan-segan untuk berkontribusi di urusan dapur. Karena pernah saya dapat cerita dari sahabat saya, suaminya nggak bisa mbedain mana tumbar dan mana merica. Hehe. Ada-ada saja ya…

Kekompakan yang super remphong selanjutnya adalah beberapa waktu kemarin kita nyobain blender (kado dari saudara). Kami jadi heboh sendiri (dengan kekonyolan masing-masing) dan akhirnya sepakat untuk lebih rajin bikin jus buah. Ah, konyol dan errornya kami waktu itu. Hihi. Tapi kami jadi makin kompak lho! (Kompak konyolnya. Hehe)

Setiap ada waktu luang, kami sering ngobrol banyak hal. Paling seru ketika cerita masa kecil dan keluarga masing-masing. Mental pengusaha suami saya sudah tertanam sejak SD dan almarhum bapaklah yang mengajarinya mandiri semenjak kecil. Kalau suami sudah cerita tentang almarhum bapak saya seolah turut merasakan kerinduan yang tengah ia rasakan. “Bapak, semoga engkau bahagia di sana… Kelak, semoga kita dipertemukan di surga-Nya. Aamiin…”

Ya, dan banyak kekompakan-kekompakan lain yang menghiasi hari-hari kami. Saat saya selesai membaca buku (baik itu seputar dunia kepenulisan, kehamilan, dunia anak, kehidupan rumah tangga, dsb) suami saya akan selalu menjadi pendengar yang baik. Karena salah satu kebiasaan saya adalah menceritakan apa yang sudah saya baca. Setelah itu, kadang kami terlibat diskusi yang seru dari yang serius sampai yang super lucu.

Yups, 3 KDRT ini yang bisa saya tuliskan. Pada intinya, pilihan untuk menikah, menentukan pendamping hidup untuk kemudian menjalani kehidupan berumah tangga bersama pasangan itu tidak hanya berlaku 1-2 hari saja tapi sepanjang sisa usia. Dan kepada diri ini, saya ucapkan: “Selamat menjalani hari-hari yang penuh kejutan membahagiakan… Barokallahu fiik…”

Buat rekan-rekan, semoga bisa mempersiapkan dengan sebaik-baiknya, seindah-indahnya... Pun yang sudah berkeluarga semoga senantiasa berjuang untuk melahirkan sakinah, mawaddah, rohmah, menjadi keluarga dakwah dan amanah, bersama sampai ke Jannah. Aamiin...


[Keisya Avicenna, 130313: seorang muslimah yang masih terus belajar  menjadi istri shalihah serta ibu yang luar biasa untuk putra-putrinya kelak. Mohon do’a dari semua, ya…]