
Pagi ini...ku lihat mentari bersinar begitu cerah...
seolah menantangku untuk menjadi bukti
siapakah yg lebih semangat menghadapi tantangan hari ini???
bismillah, tinggal satu hari lagi kompetisi itu akan dimulai...
SELEKSI MAWAPRES TINGKAT FAKULTAS!!!
Ada 4 kandidat mawapres yg akan bersaing ketat di sana :
1. Matematika : Etika Suryandari, my twins sister
2. Biologi : Esty Elifah, sahabat seperjuanganku di Biologi...
3. Fisika : Annisatun F, sahabat seperjuangan dalam mengemban amanah dakwah di MIPA
4. Kimia : Aptika, sahabat seperjuangan dalam mengemban amanah di SIM dalam rangka mambangun kultur akademis di UNS pada umumnya n MIPA pada khususnya...
Ke-4 akhwat yang bener" dahsyat menurutku!!!!
aku bersyukur menjadi bagian dari kehidupan mereka....
aku akan mendukung dan mendoakan antuna sekalian...
buktikan, kalo kita aktifis yang prestatif!!!
buktikan pula, kalo kita adalah AKHWAT YANG TANGGUH !!!!
MIMPI 66....
Mengawal "saudara kembarku" menuju juara 1 MAWAPRES tingkat FAKULTAS....
SEMANGAT MB'THICKO!!!!!
Buat ibu, bapak, mas dody, dik nung, ipul cs, dan semua keluargamu bangga akan prestasi-prestasimu...!!!
jadwal malam ini :
1. Selaksa Cinta dalam Indahnya Ukhuwah di Kos PINK
2. Latihan presentasi ya...ntar ku komentari!!!
3. Ntar tak wawancara sekalian, pake bilingual.OK?? sekalian test psikologis...
he22x...
ketik : REG (spasi) THICKO kirim ke 085647122037..he22x...
atau sampaikan dukunganmu di ZONA TWINS, bilik yang penuh inspirasi, mimpi, dan motivasi!!!!!
Menuju MIMPI 66
16 Februari 2009
Diposting oleh
KEISYA AVICENNA
di
Senin, Februari 16, 2009
0
komentar
BELAJAR BERSYUKUR, RENCANA ALLOH ITU JAUH LEBIH INDAH....
11 Februari 2009
Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya.
Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang ... sayang... mau di olah lagi…
sudah kotor bercampur sisa makanan lain….
tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.
***
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na'udzubillahi min dzalik…
Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.
Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita,
berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya.
Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir.
Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah... alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na'udzubillah….
Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.
Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”.
Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).
sumber : eramuslim
Diposting oleh
KEISYA AVICENNA
di
Rabu, Februari 11, 2009
0
komentar