[NO]stalgia [R]o[MA]ntic : “Jejak Cantik di Kota Batik”

25 November 2013




Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hari Ahad full semangat!
Ba’da Subuh, kembali ngecek semua perkap yang harus dibawa (eh, emangnya mau kemane lu, Nung?) hihi. Hari ini mendapatkan undangan untuk mengisi acara di Pekalongan. Tepatnya, ada training jurnalistik yang diadakan oleh LPM Al-Mizan, STAIN Pekalongan. Dari TOR yang dikasih panitia, aku musti ngemeng-ngemeng soal cerpen, motivasi kepenulisan, dll. Slide ppt sudah ready sejak jauh-jauh hari. So, aku rasa persiapan dah OK! Camilan di tas juga dah siap. Apalagi kemarin sempat nemu permen Kino dengan gambar kartun kesayanganku, Doraemon. Hakdies!
Jam 05.00 Mas Sis mengantarkanku ke Stasiun Poncol. Perjalanan pagi yang istimewa. Mas Sis melepas kepergianku sampai depan pintu batas pengantar. Suami tercinta nggak bisa ikutan karena ada agenda di Gunung Pati. Ya sudah deh, mbolang sendiri. Yang penting dah ngantongin restu dan do’a dari suami. Alhamdulillah, segera menuju gerbong 5 (gerbong paling buntut). Cari kursi 2A. Nyaman juga ya, KA. Kaligung Mas. Ini pengalaman pertama ke Pekalongan dengan kereta. Uhuy… Jam 05:55, ular besi yang kunaiki pun berangkat. Bismillahi majreha wa mursaha…
“Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela. Dari tempatku bersandar, seiring lantun kereta. Membawaku menikmati tempat-tempat yang indah…” (konser sama Padi dulu)
Seru banget pas lihat laut. Hihi. Berasa pengin njebur. Kalau sesuai jadwal sih, jam 7.30 udah sampai. Tapi, di daerah Weleri ada perbaikan rel. Jadinya, jalan kereta agak lambat dan sering berhenti. Enjoy aja lah!
Ada seorang ibu yang ngajak ngobrol. Beliau bilang, “tak kira mbak masih SMA, lho! Ternyata sudah nikah!” Hah, benar-benar muka gue nih muka imut-imut. Mbatin : “Ibu orang kesekian lhoh, yang bilang kayak gitu…” *krukupankresek
Jam 08.00 sampai juga di Stasiun Pekalongan. Adik-adik dari STAIN sudah menanti di pintu keluar. Saatnya menuju lokasi. Lumayan jauh juga ternyata. Kita sempat beli sate kambing di alun-alun kota. Nyummy banget rasanya!
Sekitar jam 09.30, aku mulai beraksi. Senang rasanya berbagi inspirasi dan motivasi berdasarkan pengalaman pribadi. Beberapa materi yang aku sampaikan berasal dari ilmu-ilmu keren Casofa Fachmy saat menjadi guruku menulis di Pelangi. Thanks, Bro!
Hampir 2 jam aksiku, adik-adik menerima tantangan keren dariku dan kita akhiri foto bersama, sebuah akhir yang super seru.
Lagi-lagi, aku harus melukis rona bahagia di hati. Melihat keceriaan mereka dan antusiasme mereka yang luar biasa.
Pas moment itu ada kesempatan narsis dikit dengan karya terbaru. Ya, Beauty Jannaty bisa jadi salah satu bukti. Inilah salah satu hasil dari si pejuang mimpi. Karya itu lahir dengan semangat membara bahwa mimpi besar itu harus diperjuangkan agar bisa menjejak nyata hingga bermanfaat bagi sesama. Kata Casofa Fachmy, “Kita harus melegenda!”



Untuk apa melegenda? Perlukah itu? Tidak. Kita tidak perlu. Tapi generasi setelah kita yang memerlukannya. Mereka butuh inspirasi, dan inspirasi, selalu lebih mengena dan mereka percayai jika datang dari generasi sebelum mereka. Dengan begitu, kita bukan hanya berbagi inspirasi, tapi kita juga menuai pahala, yang tak kenal henti.
Jika kita tak melegenda, tentu mereka tak tahu kalau kita ada. Jika kita tak berkarya, tentu mereka tak bisa mengambil kita sebagai inspirasinya.
Jika Imam Bukhari melegenda lewat Shahih-nya. Jika Ibnu Jarir melegenda lewat Tafsir-nya. Jika Ibnu Khaldun melegenda lewat Muqaddimah-nya. Jika Sayyid Quthb melegenda lewat Zhilal-nya. Jika Hasan Al-Banna melegenda lewat Majmu’ah Rasail-nya. Lalu, kamu melegenda lewat karya apa?
Sama seperti saya. Kita-kita sama-sama belum punya. Tapi di sini, kita belajar dari pertanyaan itu. Tapi dari sini, adalah terminal keberangkatan atas sebuah penyadaran: suatu saat, kita harus bisa seperti mereka.
[motivasi dari Casofa saat event Idealogi di Solo]



Acara selesai, di ruang transit masih ada agenda foto-foto dengan panitia (Hadeuh, ternyata pada narsis juga! Eh, ada seorang panitia yang wajahnya mirip banget sama Asmirandah, tapi berjilbab lho! Suer…xixi)
Bareng-bareng, beberapa panitia mengantarkanku ke stasiun. Mampir sholat dulu di sebuah masjid. Mereka sebenarnya pengin ngajak aku ke masjid agung. Tapi, mengingat waktu, aku lebih memilih langsung ke stasiun. Dan ternyata feeling-ku benar. Terjadi kemacetan yang cukup panjang dan lama karena ada kecelakaan di jalan Imam Bonjol.
Lima belas menit sebelum waktu keberangkatan, akhirnya sampai juga. Berpisah dengan adik-adik yang luar biasa dan aku pasti akan merindukan kalian semua. Terus semangat berkarya, ya! Agar semesta semakin merasai manfaatnya!
Perjalanan pulang yang tak kalah keren.
Sampai di Poncol sekitar jam 16.00. Bergegas jalan ke pintu keluar sebelah barat. Celingukan, kok sosok yang dicari nggak ada, ya? Langsung deh jalan ke area parkiran. Saat ribet cari hape di tas, tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar di pundakku, dari arah belakang. Hampir saja menangkis dan pasang kuda-kuda. Tapi setelah tahu siapa pelakunya, langsung deh tersenyum dan menatapnya penuh cinta. Hihi. “Mas Siiiiis, ngagetin ajaaa!” Sosok itu kebanjiran cubitan dan terus menggamit tanganku, mesra. Hihi… *berasa dah lamaaa banget nggak jumpa. Padahal baru pisah beberapa jam saja.
Selanjutnya, menikmati perjalanan pulang. Sempat mampir ndegan dan makan siomay sepiring berdua. Sesekali bercerita kegiatan hari ini.
Akhirnya, sampai rumah juga. Sosok pangeran itu sempat memijit kakiku dan menyiapkan air hangat untukku. Perhatian banget, sih! Alhamdulillah… Setelah segar, saatnya makan malam. Hmm, gulai kepala ikan siap disantap.

Bonus Cinta di Hari Ini
Malam harinya, kami silaturahim ke rumah Bunda Darosy. Meeting persiapan launching buku baru dan mimpi-mimpi kami ke depan. Banyak karakter Bunda Darosy yang “gueee banget!”. Banyak karakter Ayah Edy (suami Bunda) yang “Mas Sis banget!” hihi. Jadi, kalau lagi ngobrol dan diskusi tuh kami berempat bisa klop banget!
Jadi ingat, di proposal nikahnya Mas Sis tertulis,
“…untuk itulah sebenarnya saya selama bertahun-tahun belajar tentang business development, property, investasi, keuangan, system development, networking, dan bisnis-bisnis pemberdayaan. Ujungnya adalah 3 menara ini. Proyek ‘MERCUSUAR SURGA 3 MENARA’ adalah proyek yang terintegrasi dan saling berkaitan. Semuanya, akan berdiri dengan kokoh, jika ketiganya ada. Ibarat sebuah kursi, 3 Menara + 1 Mercusuar, adalah kaki-kakinya. Sebuah kursi tidak akan berdiri kokoh, jika ke-4 kakinya tidak kokoh pula. Pertanyaannya, 1 MERCUSUAR itu apa? Yang satu ini, khusus ISTRI SAYA NANTI yang tahu. CALON ISTRI, mohon maaf, belum boleh tahu.”
Hihi… ya, saat ini adalah masa-masa merealisasikan ‘proposal cinta’ itu. Semoga kita bisa saling melengkapi dan melipatgandakan setiap potensi, saling bersinergi dan berkontribusi untuk mempersiapkan bekal menjemput kehidupan abadi.
Malam yang indah dan perjalanan pulang yang romantis

[Keisya Avicenna, 24 November 2013]

0 komentar: